Cara Agar Hati Tetap Hidup

oleh: furqon hati yang hidup

Pendahuluan

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam yang telah memberikan nikmat islam dan iman kepada kita. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan kepada para sahabatnya yang telah membawa risalah islam sehingga kita mengetahi kebenaran dan kebatilan serta kepada semua orang yang mengikuti jejak mereka sampai hari kiamat.

Kebanyakan orang selalu memperhatikan keadaan jasmaninya apakah sehat ataukah sakit. Ia selalu berusaha makan makanan yang sehat dan higienis serta halal agar kesehatannya terjaga. Ketika badannya terkena sakit maka ia berusaha sekuat tenaga berobat agar mendapatkan kembali kekuatan badannya. Apalagi ketika ia merasa telah dekat pada akhir hidupnya. Akan tetapi terkadang hal itu bukan sesuatu yang amat penting, karena sakit, sehat dan kematian adalah konsekuensi hidup. Kalam Allah kepada Nabi-Nya,

{إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ } [الزمر: 30]

 “Sesungguhnya kamu akan mati dan Sesungguhnya mereka akan mati (pula).” (QS Az Zumar 30)

Padahal ada hal lain yang lebih penting untuk diperhatikan, yaitu hati kita. Al Qur’an telah menunjukkan bahwa hati itu bisa sakit dan bisa sehat. Kalam Allah dalam kitab-Nya,

{يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ} [يونس: 57]

Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS Yunus 57)

Allah juga telah berfirman menjelaskan bahwa kebahagiaan dan kesengsaraan di dunia dan di akhirat tergantung kepada hati. Jika hati itu bersih, sehat dan penuh dengan keimanan maka kebahagiaan yang akan didapatkan. Sebaliknya jika hati itu sakit, kotor dan penuh dengan noda-noda kemaksiatan maka kesengsaraanlah yang akan didapatkan. Kalam Allah dalam kitab-Nya,

{ يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ} [الشعراء: 88، 89]

(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, (QS Asy Syu’araa 88-89)

{لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لَا يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا} [الأحزاب: 60]

Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang- orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar, (QS Al Ahzab 60)

Maka hendaknya kita berusaha untuk selalu merawat hati dengan segala bentuk ketaatan. Sebagaimana badan membutuhkan makanan yang sehat, halal dan higienis, maka hati juga membutuhkan ketaatan agar tetap terjaga kesehatannya. Jika seseorang tidak sengaja memakan makanan yang rusak dan beracun tentu ia akan berusaha segala upaya untuk mengeluarkannya, maka hati lebih berhak untuk tidak diracuni dengan kemaksiatan. Salah seorang shalih berkata, “Sungguh mengherankan manusia itu, mereka menangisi orang yang mati jasadnya tetapi tidak menangisi orang yang mati hatinya, padahal itu lebih berbahaya”.[1]

Jika kita melihat keadaan yang terjadi pada saat ini kita mendapati banyaknya tindakan maksiat yang semakin merajalela. Orang-orang tidak merasa malu lagi melaksanakan kemaksiatannya secara terang-terangan. Norma-norma kesusilaan yang dahulu amat dihormati seakan menjadi sekedar cerita masa lalu. Apalagi dengan norma-norma agama. Garis antara halal dan haram sudah bukan merupakan garis yang jelas lagi. Disebutkan, merujuk pada data yang dimiliki Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam kurun waktu 2003-2010, transaksi narkoba di Indonesia naik sebesar 300 persen. Kemudian data yang dimiliki BKKBN Pusat, hasil penelitian di beberapa kota besar di Pulau Jawa, sekitar 51 persen remaja di Jabodetabek sudah biasa melakukan seks di luar nikah sedangkan  Surabaya sebesar 54 persen. Disamping itu, berdasarkan survei yang dilakukan Yayasan Buah Hati, pada anak  SD kelas IV-VI sebanyak  22 persen sudah terbiasa mengakses internet situs pornografi.[2] Melihat data yang demikian mencengangkan itu sudah sepantasnya kita bertanya dalam hati, dimanakah peran para du’at sebagai seseorang yang beramar makruf nahi munkar. Seakan-akan suara mereka tenggelam dalam lautan maksiat yang demikian menggelora.

Namun kenyataan para du’at yang kita hadapi terkadang membuat tercengang. Fenomena da’i berbulu musang amat marak. Mereka amat bersemangat ketika meyampaikan dakwah, begitu menggebu-gebu seakan-akan mengetahui seluk beluk Islam. Namun terjadi kontradiksi antara perkataan dan perbuatannya. Mencegah dari ikhtilat akan tetapi malah berduaan di depan kamera televisi dengan dalih berta’aruf. Ada pula seorang kiai yang doyan wanita sampai kasusnya menjadi buah bibir masyarakat, kasus yang terkenal dengan sebutan aryantigate, sampai akhirnya kemudian dilupakan begitu saja. Bahkan sang kiai malah dielu-elukan sebagai tokoh salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia dan dinobatkan menjadi bapak Pluralisme.

Tidak kita lupakan juga fenomena da’i artis dan da’i karbitan. Para da’i yang bersedia bahkan senang dan bercanda tertawa-tawa dengan wanita sang pembawa acara didepan kamera televisi. Para da’i yang menentukan tarif pada setiap jam yang ia gunakan. Para da’i yang bersedia menjadi bintang iklan produk tertentu. Dilain sisi audisi-audisi da’i cilik amat diminati oleh masyarakat. Akibatnya dakwah yang berfungsi sebagai sarana perubahan menjadi hanya sekedar ajang perlombaan belaka.

Semua hal itu kiranya berpangkal pada hati yang sakit yang akhirnya mengakibatkan hilangnya keikhlasan dan tumbuhnya syahwat popularitas yang ditutupi dengan berbagai dalih yang berbau syari’at. Sehingga semangat berkorban yang seharusnya mendarah daging dalam diri para du’at berubah menjadi semangat untuk memasang tarif. Yang pada akhirnya berujung kepada mandulnya peran da’i sebagai agen perubahan. Melihat kenyataan yang memprihatinkan itu, kiranya perlu untuk mengetahui apa dan bagaimanakah hati yang sehat itu. Apa peran hati yang bersih dari segala penyakit hati dalam perjalanan dakwah seorang da’i? Bagaimanakah cara untuk mendapatkan hati yang sehat lagi hidup? Tulisan ini berusaha membahas secara ringkas permasalahan tersebut. Kritik dan saran amat diapresiasikan.

Hati yang Hidup

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ألا وإن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهي القلب

“Ketahuilah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik, maka baik pulalah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak, maka rusak pulalah seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hati.” (HR Bukhori dan Muslim)

Abu Hurairah berkata, “Hati adalah raja anggota tubuh. Dan anggota tubuh adalah para prajuritnya. Apabila raja baik, maka baik pulalah para prajuritnya. Dan apabila raja busuk, maka busuk pulalah para prajuritnya.”

Maka dapat disimpulkan bahwa memperhatikan dan meluruskan hati merupakan perkara yang paling utama untuk diseriusi oleh orang-orang yang menempuh jalan menuju Allah. Kebutuhan kita kepada hati yang hidup sesungguhnya melebihi kebutuhan kita kepada badan yang sehat. Karena betapa banyak manusia yang badannya sehat akan tetapi hatinya sakit sehingga syari’at tidak dipedulikannya lagi. Hawa nafsunya dijadikannya tuhan, kemanapun syahwatnya memerintahkan ia tunduk patuh bagai kerbau dicocok hidungnya. Kalam Allah dalam kitab-Nya,

{أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ} [الجاثية: 23] 

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (QS Al Jaatsiyah 23)

Hati yang hidup adalah hati yang keimanan telah menancap di dalamnya sehingga penuh dan makmur dengan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.[3] Imam Ibnul Qayyim mendefinisikannya sebagai: “Dia merupakan hati yang suci dari berbagai penyakit yang menggerogoti hati yang sakit, berupa penyakit syahwat yang membuatnya mengikuti prasangka, dan penyakit syahwat yang membuatnya mengikuti hawa nafsu.[4]

Hati yang hidup adalah sumber segala kebaikan, sebaliknya hati yang mati adalah sumber segala kejahatan. Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah berkata:[5]

“Dasar segala kebaikan dan kebahagiaan hamba, bahkan setiap makhluk hidup adalah kesempurnaan hidup dan cahayanya. Hidup dan cahaya adalah modal segala kebaikan. Kalam Allah dalam kitab-Nya,

{أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ } [الأنعام: 122]

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian Dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu Dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan. (QS Al An’am 122)

Allah menghimpun dua dasar fundamental: Kehidupan dan cahaya. Hidup akan melahirkan kekuatan; kekuatan pendengaran, penglihatan, malu, ‘iffah (menahan diri dari yang diharamkan), keberanian, kesabaran dan segenap akhlak mulia lainnya. Juga ia akan melahirkan kecintaan pada kebaikan dan benci keburukan. Semakin kuat hidup seseorang semakin kuat pula sifat-sifat di atas. Sebaliknya, jika hidupnya lemah maka lemah pula sifat-sifat itu pada dirinya. Demikian juga jika cahaya dan sinar hati kuat maka terbukalah baginya pengetahu-an dan hakikatnya. Tampaklah baginya kebaikan sebagai kebaikan, karena cahayanya lalu ia mengedepankannya dalam kehidupan. Demikian pula dengan keburukan, ia akan tampak buruk baginya.”

Hati yang hiduplah yang bisa mendapatkan manfaat dari Al Qur’an.[6] Kalam Allah dalam kitab-Nya,

{إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُبِينٌ (69) لِيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِينَ} [يس: 69، 70]

Al Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan. Supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir. (QS Yaasin 69-70)

Kalam Allah dalam kitab-Nya,

{إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ} [ق: 37]

 Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang Dia menyaksikannya. (QS Qaaf 37)

Hati yang suci akan mudah menerima kebenaran, tidak ada penghalang antara dia dan kebenaran.[7] Imam Ibnu Qayyim berkata: “Hati yang benar dan suci tidak akan ada apapun antara dia dan menerima kebenaran, mencintainya, dan mengutamakannya selain pengetahuannya. Ia memiliki pengetahuan yang benar terhadap kebenaran, keterikatan yang sempurna, dan menerima sepenuhnya”.

Hati yang suci adalah hati yang selalu menjawab panggilan Allah. Kalam Allah dalam kitab-Nya,

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ} [الأنفال: 24]

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan Sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. (QS Al-Anfaal 24)

Hidupnya badan tanpa hidupnya hati sama seperti hidupnya binatang ternak. Punya pendengaran dan penglihatan akan tetapi hanya dimanfaatkan untuk makan, minum dan kawin. Kalam Allah dalam kitab-Nya,

{وَمَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِمَا لَا يَسْمَعُ إِلَّا دُعَاءً وَنِدَاءً} [البقرة: 171]

Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. (QS Al Baqarah 171)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Allah menyerupakan mereka dengan kambing yang dipanggil oleh penggembalanya sedangkan kambingnya tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Seperti kalam Allah dalam ayat yang lain,

Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu). (QS Al Furqaan 44)[8]

Adapun bagi seorang dai maka ia lebih membutuhkan hati yang sehat daripada yang lain. Karena  seorang dai ibarat dokter yang berusaha mencari obat bagi pasiennya sehingga sembuh. Perhatian utama seorang dai adalah jiwa orang-orang yang diserunya sehingga mereka mampu melepaskan diri dari belenggu syahwat dan syubhat. Lalu bagaimanakah halnya jika dai itu sendiri yang membutuhkan dokter untuk jiwanya yang sakit? Sulaiman at-Taimi berkata:

وغير تقي يأمر الناس بالتقى…طبيب يداوي الناس وهو عليل[9]

Yang tiada bertakwa menyuruh orang untuk bertakwa

Umpama tabib mengobati orang dia sendiri mengeluh kesakitan

Hati yang bersih dan hidup amat penting bagi seorang dai untuk mendapatkan ilmu yang bermanfa’at bagi dirinya dan orang-orang di sekitarnya sebagaimana ditegaskan oleh Allah Ta’ala dalam kalam-Nya,

{وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ} [البقرة: 282]

Dan bertaqwalah kepada Allah niscaya kamu sekalian akan diajari ilmu oleh Allah (QS Al Baqarah 282)

Imam Al Qurthubi berkata: “Ini adalah janji dari Allah Ta’ala bahwa orang yang bertaqwa akan diberinya anugerah ilmu (maksudnya Allah menjadikan cahaya dalam hati orang itu) sehingga mudah memahami apa yang disampaikan kepadanya”[10]. Allah juga berfirman,

{لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ} [الواقعة: 79]

Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan (QS Al Waqi’ah 79)

Dari sebagian tafsirnya adalah bahwa orang-orang yang memiliki hati yang bersih dan akhlak mulia akan mampu menyingkap ilmu dan hakekat Al Qur’an. Dalam tafsiran lain disebutkan bahwa orang-orang yang suci dari kesyirikan, kenifakan dan dosa adalah orang-orang yang akan memahami tafsir Al Qur’an dan mendapatkan manfaat serta keberkahannya secara optimal [11].

Seorang da’I adalah qudwah, sebagai teladan bagi orang-orang yang diserunya. Semua perilakunya akan mendapat sorotan secara langsung ataupun tidak langsung. Setiap perkataan dan perilakunya akan menjadi pendukung baginya jika perkataannya sesuai dengan perilakunya. Sebaliknya, setiap perkataan dan perilakunya akan berbalik menentangnya jika perkataannya tidak sesuai dengan perilakunya. Allah mencela orang-orang yang beramar makruf nahi munkar akan tetapi ia melupakan dirinya sendiri,

{أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ } [البقرة: 44]

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, Padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir? (QS Al Baqarah 44)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وعن أسامة بن زيد قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” يجاء بالرجل يوم القيامة فيلقى في النار فتندلق أقتابه في النار فيطحن فيها كطحن الحمار برحاه فيجتمع أهل النار عليه فيقولون : أي فلان ما شأنك ؟ أليس كنت تأمرنا بالمعروف وتنهانا عن المنكر ؟ قال : كنت آمركم بالمعروف ولا آتيه وأنهاكم عن المنكر وآتيه ” . متفق عليه[12]

Dari Usamah bin Zaid ia berkata; “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Pada hari qiyamat akan dihadirkan seseorang yang kemudian dia dilempar ke dalam neraka, isi perutnya keluar dan terburai hingga dia berputar-putar bagaikan seekor keledai yang berputar-putar menarik mesin gilingnya. Maka penduduk neraka berkumpul mengelilinginya seraya berkata; “Wahai fulan, apa yang terjadi denganmu?. Bukankah kamu dahulu orang yang memerintahkan kami berbuat ma’ruf dan melarang kami berbuat munkar?”. Orang itu berkata; “Aku memang memerintahkan kalian agar berbuat ma’ruf tapi aku sendiri tidak melaksanakannya dan melarang kalian berbuat munkar, namun malah aku mengerjakannya”. (Muttafaq alaih)

Abul Aswad ad-Duali berkata:

لا تنه عن خلق وتأتي مثله … عار عليك إذا فعلت عظيم

وابدأ بنفسك فانهها عن غيها … فإذا انتهت عنه فأنت حكيم

فهناك يقبل إن وعظت ويقتدى … بالعلم منك وينفع التعليم[13]

Jangan engkau melarang sesuatu tetapi malah mendatanginya..

Sungguh besar aib atasmu jika engkau melakukannya

Mulailah dari dirimu sendiri, cegahlah dirimu dari penyimpangan..

Jika ia telah bersih darinya, maka kaulah sang bijak itu.

Yang kan didengar setiap katanya dan dicontoh semua perilakunya.

Saat itulah, pengajaranmu memberi arti.

Maka dari itu hendaknya seorang da’i selalu berusaha menjaga agar hatinya tetap hidup sehingga seluruh nasihat dan ajaran-ajarannya dapat berpengaruh kepada masyarakat. Bencana yang besar jika seorang da’I kehilangan hidupnya hati. Bencana bagi dirinya dan juga orang-orang yang diserunya. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata,

Maka hati yang sehat akan senantiasa mengingatkan pemiliknya sehingga ia bisa tenang dan tentram bersama Rabb, Dzat yang disembahnya. Dan kala itu ia pun bisa mengendalikan ruh kehidupannya, merasakan nikmatnya, dan ia selanjutnya memiliki kehidupan yang lain dari kehidupan orang-orang yang lalai dan berpaling dari masalah ini, yang karenanya ia diciptakan, surga dan neraka dijadikan, dan para rasul diutus serta kitab-kitab diturunkan. Dan seandainya tidak ada sesuatu balasan apa pun bagi manusia kecuali keberadaan hati yang sehat maka cukuplah hal itu sebagai balasan, dan cukuplah dengan kehilangannya sebagai suatu penyesalan dan siksaan.

Karena itu, kehilangan hidupnya hati bagi orang-orang yang mengetahui Allah adalah lebih dahsyat daripada kematian. Karena kehilangan hidupnya hati berarti terputusnya diri dari kebenaran, dan kematian adalah terputusnya seseorang dari makhluk, maka berapa masa keterputusan itu?[14]

Sebab-sebab Hidupnya Hati

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata:

Hati yang hidup memiliki dua kekuatan: Pertama, kekuatan ilmu dan pembeda. Kedua, kekuatan keinginan dan cinta. Kesempurnaan dan kebaikan hati bisa dicapai dengan menggunakan dua kekuatan tersebut untuk hal-hal yang bermanfaat baginya serta untuk kebaikan dan kebahagiaannya. Jadi, kesempurnaan hati terletak pada kekuatan ilmu dalam mengetahui dan memahami kebenaran, serta dalam membedakan antara kebenaran itu denga kebatilan. Juga dengan menggunakan kekuatan keinginan dan cinta dalam mencari dan mencintai kebenaran serta dalam mengutamakan kebenaran daripada kebatilan.

Siapa yang tidak mengetahui kebenaran maka ia tersesat. Siapa yang mengetahui kebenaran tapi mengutamakan yang lain daripadanya maka ia adalah orang yang mendapat murka. Dan siapa yang mengetahui kebenaran lalu mengikutinya maka ia adalah orang yang mendapat kenikmatan.[15]

Maka hati akan menjadi hidup hanya dengan mengikuti kebenaran dan menjadikan kebenaran sebagai pemandunya. Kita mengetahui bahwa kebenaran mutlak hanya terdapat pada Al Quran sebagai wahyu illahi dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang sama sekali tidak pernah berbicara dengan hawa nafsunya. Pada keduanya telah terdapat obat bagi hati yang sakit dan dapat menghidupkan kembali hati yang mati. Kalam Allah dalam kitab-Nya,

{وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا} [الإسراء: 82]

Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (QS Al Israa’ 82)

Ibnu Qayyim berkata: “Kunci hidupnya hati adalah mentadaburi Al Qur’an, beribadah pada waktu sahur dan meninggalkan segala dosa”.[16]

Sebagian ulama berkata obatnya hati ada lima, membaca Al Qur’an dengan mentadaburinya, perut yang kosong (melazimi shaum), qiyamul lail, beribadah pada waktu sahur, dan bersahabat dengan orang shalih.

  1. Membaca Al Qur’an dengan mentadaburinya

Kalam Allah dalam kitab-Nya,

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الأَلْبَابِ[ص: 29]

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. (QS Shaad 29)

Dalam ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa Allah telah menurunkan suatu Kitab yang penuh barokah dalam lafadznya, maknanya, perintah-perintahnya, dan hukum-hukumnya. Dari barokahnya adalah barangsiapa yang membacanya maka ia akan mendapat satu kebaikan dari dari setiap huruf yang dibacanya dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi. Dari barokahnya juga bahwa Al Qur’an akan menjadi syafa’at di hari kiamat bagi para ahlinya.

Dalam ayat tersebut Allah juga memerintahkan untuk selalu mentadaburi Al Qur’an yaitu memikirkan makna-maknanya, perintah-perintahnya dan larangan-larangannya. Ketika membaca ayat yang memerintahkan kepada sesuatu maka segera hal itu dilaksanakan. Ketika membaca ayat yang melarang dari sesuatu maka hal itu segera ditinggalkan. Ketika membaca ayat rahmat maka ia segera mengharap rahmat-Nya dan memohon keutamaan-Nya. Ketika membaca ayat adzab ia segera takut akan adzab-Nya dan memohon perlindungan kepada-Nya. Ketika membaca ayat tasbih maka ia segera bertasbih memujinya. Maka dengan semua itu akan bertambahlah keimanan, ilmu, dan ketakwaannya.

Bagi seorang da’i membaca Al Qur’an dengan mentadaburinya boleh dikata merupakan suatu kewajiban untuk menjaga hatinya agar tetap hidup. Banyak pelajaran-pelajaran yang bisa diambil dari kisah-kisah yang disebutkan dalam Al Qur’an. Terutama pelajaran keteguhan dalam berdakwah dan selalu yakin dengan pertolongan Allah. Allah berfirman kepada Nabi-Nya Musa dan Harun Alaihima as-salam,

{قَالَ لَا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى} [طه: 46]

Allah berfirman: “Janganlah kamu berdua khawatir, Sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat”. (QS Thahaa 46)

{قَالَ كَلَّا فَاذْهَبَا بِآيَاتِنَا إِنَّا مَعَكُمْ مُسْتَمِعُونَ} [الشعراء: 15]

Allah berfirman: “Sekali-kali tidak, pergilah kalian berdua dengan ayat-ayat Kami sesungguhnya Kami bersama kalian, Kami mendengar dengan seksama”. (QS Asy Syu’araa 15)

Ditambah dengan metode-metode berdakwah dan berdialog yang menuntun da’I sehingga mampu menghadapi berbagai persoalan dakwah dengan hati yang bersih dan penuh kebijaksanaan. Kalam Allah dalam kitab-Nya,

{وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَلَنْ تَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا} [الكهف: 27]

Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, Yaitu kitab Rabbmu (Al Quran). tidak ada (seorangpun) yang dapat merobah kalimat-kalimat-Nya. dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain dari padanya. (QS Al Kahfi 27)

Sebagian orang bertanya-tanya apa hukum mengambil upah dari pengajaran Al-Qur’an. Para ulama berselisih dalam hal itu. Ada yang memperbolehkan dan ada yang tidak memperbolehkan. Akan tetapi yang perlu diperhatikan adalah hendaknya seorang pengajar Al-Qur’an itu selalu meneliti hatinya agar mendapatkan keikhlasan dalam pengajarannya. Hendaknya ia berusaha dengan segala cara jangan sampai keikhlasannya rusak akibat mengharapkan upah sehingga dakwahnya tidak berbarokah lagi yang berakibat tidak akan mampu membawa manusia menuju keridhoan Allah. Sudah seyogyanya para da’i memperhatikan teman seperjuangannya, jangan sampai keikhlasannya terkurangi atau bahkan terhapuskan sama sekali karena kekuarangan financial.

  1. Qiyamul lail

Seorang da’I ilallah dalam perjalanan dakwah pasti tidak akan mulus. Ia akan menemui berbagai hambatan dan rintangan. Akan tetapi dengan keteguhan dan ketabahannya ia akan mampu bertahan menghadapi rintangan yang menghadangnya. Maka sejatinya kekuatan seorang da’I itu terletak pada jiwanya. Jika jiwanya kuat maka ia akan menganggap ringan cobaan sebesar apapun, sebaliknya jika jiwanya lemah ia akan menganggap cobaan sekecil apapun menjadi musibah paling besar. Kalam Allah Ta’ala dalam kitab-Nya,

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ} [الحج: 77]

Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. (QS Al Hajj 77)

Dalam ayat diatas Allah memerintahkan kita untuk ruku’, sujud dan beribadah kepada-Nya sebelum berbuat kebaikan. Maka bisa diambil kesimpulan bahwa pondasi dari dakwah –yang ia adalah salah satu bentuk kebaikan dan bahkan yang paling utama- adalah ruku’ dan sujud yang akhirnya membuahkan keteguhan dan ketabahan jiwa.

Maka demikianlah generasi pertama kaum muslimin diperintahkan sebelum mereka diberi beban dakwah yang sedemikian berat. Bisa dibayangkan satu tahun lamanya generasi terbaik dari umat ini melaksanakan kewajiban qiyamul lail layaknya sholat lima waktu semata-mata untuk mengisi dan memperkuat ruhiyah mereka sebelun segala sesuatunya. Baru di tahun berikutnya turun rukhshah dalam menjalankan sholat malam yang merupakan inti dari aktivitas memperkuat ruhiyah. Akhirnya lahirlah generasi yang mereka itu “fursaanun bin nahar ruhbaanun bill lail”. Bisa kita lihat dan rasakan bekas-bekas mereka Rahimahumullah sampai kehidupan kita saat ini.

  1. Beribadah dan mencari berkah pada waktu sahur

Dari sebab-sebab hidupnya hati adalah beribadah pada waktu sahur dengan beristighfar, bertaubat, dan berdoa memohon ampunan dan keselamatan dari neraka serta keberuntungan masuk surga. Waktu sahur adalah waktu ketika Allah Ta’ala turun ke langit dunia untuk menerima permohonan hamba-hamba-Nya sebagaimana dalam hadits shahih,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ رواه البخاري ومسلم

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Rabb Tabaaraka wa Ta’ala kita turun di setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan berfirman: “Siapa yang berdo’a kepadaKu pasti Aku kabulkan dan siapa yang meminta kepadaKu pasti Aku penuhi dan siapa yang memohon ampun kepadaKu pasti Aku ampuni”. (HR Bukhori dan Muslim)

Maka hendaknya seorang da’i betul-betul memanfaatkan waktu sahur untuk membangun kedekatannya kepada Allah Ta’ala. Karena kedekatan itu yang amat ia butuhkan dalam menjalani hari-hari dakwahnya yang penuh tantangan dan rintangan. Hendaknya ia manfaatkan waktu yang penuh barokah tersebut dengan bermunajat mengadukan segala persoalannya kepada Allah sehingga ia akan memperoleh kelapangan dan kemudahan dalam berdakwah.

  1. Melazimi shaum

Shaum adalah perisai yang akan memotong syahwat. Seorang da’I membutuhkan shaum lebih dari yang lainnya. Dalam jalan dakwahnya tentu ia akan berhadapan dengan berbagai macam manusia. Maka dengan shaum ia akan dapat menghadapinya dengan ketenangan bukan dengan syahwat. Dalam keadaan berpuasa tentu ia tidak akan memperturutkan syahwatnya. Tetapi sebagian orang berkata bahwa justru dengan shaum ia menjadi lemas dan tidak semangat untuk beribadah dan berdakwah. Lalu ia meninggalkan shaum dengan alasan bahwa shaum malah mencegahnya dari melakukan hal yang lebih wajib. Maka kita katakan bahwa hendaknya hal itu tidak mencegahnya dari selalu melazimi shaum. Hendaknya ia berusaha dan berazam agar selalu tetap semangat beribadah dan berdakwah walaupun dalam keadaan shaum. Tidak ada yang memungkiri bahwa kemenangan-kemenangan islam kebanyakan terjadi pada bulan Ramadhan pada saat kaum muslimin berpuasa. Dari perang Badar yang disebut sebagai yaumul furqan hingga perang Hittin dan perang Ain Jalut sebagai penentu hengkangnya kaum salibis dari bumi islam.

  1. Berteman dengan orang-orang shalih

Kalam Allah dalam kitab-Nya,

{وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا} [الكهف: 28]

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS Al Kahfi 28)

Syaikh as-Sa’di berkata: “Di dalamnya terdapat perintah untuk bersahabat dan berkumpul  dengan orang-orang pilihan walaupun mereka orang miskin dan selalu bermujahadah dalam bersahabat dengan mereka”. Ayat diatas ditujukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka para da’I lebih berhak untuk mengikuti tauladannya karena mereka adalah pewaris para nabi.

  1. Meninggalkan segala bentuk dosa

Dari sebab-sebab hidupnya hati adalah meninggalkan segala bentuk dosa. Karena dosa itu mematikan hati sebagaimana dalam hadits,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ { كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ } أخرجه النسائي والترمذي قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu beliau bersabda: “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka di titikkan dalam hatinya sebuah titik hitam dan apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan dan apabila ia kembali maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutup hatinya, dan itulah yang diistilahkan “Ar raan” yang Allah sebutkan: { كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ }(QS. Almuthaffifin 14).(HR An Nasai dan Tirmidzi dan Ia berkata; hadits ini adalah hadits hasan shahih).

Salah satu akibat dari maksiat adalah kegelisahan dan ketidak tenangan yang memenuhi hati akibat perasaan jauh dari Allah. Hal itu tampak jelas pada kehidupan orang-orang Barat yang jauh dari Allah. Angka bunuh diri sanagt tinggi akibat tidak mendapatkan ketenangan hati walaupun memiliki harta yang melimpah sehingga merasa hidup tidak berguna lagi. Maka jangan sampai seorang da’i hatinya kering, penuh dengan kegelisahan akibat maksiat yang ia lakukan. Seorang da’i membutuhkan ketenangan hati melebihi siapapun sehingga ia akan mendapatkan keteguhan menghadapi jalan dakwah yang penuh rintangan.

Penutup

Hati yang bersih dan sehat menempati kedudukan yang amat penting dalam kehidupan seorang muslim. Hati adalah raja dan anggota badan adalah tentaranya. Jika hati seorang muslim itu bersih dan sehat maka akan membuahkan tindakan yang terpuji, bersih, penuh dengan keindahan yang selanjutnya akan mengantarkannya menuju surga dan keridhoan-Nya. Terlebih lagi bagi seorang da’i. Dengan hati yang bersih akan membuahkan dakwah yang santun, indah dan suci serta berbarokah yang selanjutnya akan membawa perubahan positif menuju masyarakat yang selalu tunduk, patuh dan kembali kepada Rabbnya. Dengan hati yang bersih akan mendorong da’I untuk melakukan pengorbanan semua hal yang paling berharga dalam hidupnya demi keberlangsungan dakwah.

Maka sudah sepatutnya seorang da’I memperhatikan dan melaksanakan semua bentuk peribadahan, baik yang wajib ataupun sunnah dalam rangka mencapai dan mempertahankan kesucian dan kejernihan hatinya. Terutama ibadah-ibadah yang mempunyai dampak secara langsung kepada kejernihan hatinya. Jangan sampai seorang da’I meremehkan ibadah sekecil apapun bentunknya. Wallohu a’lam bish showab.

Daftar Pustaka

Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah, et al., Tazkiyatun Nafs, Beirut: Darul Qalam

_____________, Hadi al-Arwah ila Bilad al-Afraah

Ali bin Hazm al-Andalusi, Al Akhlaq wa As Sair, Kairo: Daar Al Musyriq Al Arabi, 1988, Maktabah Syamilah.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Ighaatsah al-Lahfaan min Mashaayid asy-Syaithaan, Jakarta: Darul Falah, 2005.

DR Anas Ahmad Karzun, Tazkiyatun Nafs, Akbarmedia

Abdul Hadi Husain Wahbi, Ishlah al-Quluub, Maktabah Dalil: Saudi Arabia, cet. 1, 1416 H/1995

Al Qurthubi, Al Jami’ li Ahkam al-Qur’an. Maktabah Syamilah

DR Ahmad Satori Ismail, Urgensi Tazkiyatun Nafs, Jakarta: Iqra Insan Press, 2004, hal. 61

Syaikh Nashiruddin Al-Abani, Misykatul Mashobih, Maktabah Syamilah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Majmu’ Fatawa.

Mausu’ah Khutob al-Minbar,  Maktabah Syamilah

 


[1] Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah, et al., Tazkiyatun Nafs, Beirut: Darul Qalam,  hal. 44

[2] Website Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Tantangan Dakwah Semakin Kompleks, http://www.dewandakwah.com/content/view/589/30/

[3] DR Anas Ahmad Karzun, Tazkiyatun Nafs, Akbarmedia, hlm. 205

[4] Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Ighaatsah al-Lahfaan min Mashaayid asy-Syaithaan, Jakarta: Darul Falah, 2005, Jilid 1, hal. 9

[5] Ibid, Jilid 1, hal. 17-18 dengan sedikit perubahan

[6] Ibid, hal. 19

[7] Ibid, hal. 10

[8] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Majmu’ Fatawa, Jilid. 10, hal. 104

[9] Mausu’ah Khutob al-Minbar,  Maktabah Syamilah, hal. 4235

[10]  Al Qurthubi, Al Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Jilid 3, hal. 406

[11]  DR Ahmad Satori Ismail, Urgensi Tazkiyatun Nafs, Jakarta: Iqra Insan Press, 2004, hal. 61

[12] Syaikh Nashiruddin Al-Abani, Misykatul Mashobih. Jilid 3, hal. 114 no. 5139, Maktabah Syamilah.

[13] Ali bin Hazm al-Andalusi, Al Akhlaq wa As Sair, Kairo: Daar Al Musyriq Al Arabi, 1988, hal. 135. Maktabah Syamilah.

[14] Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Ighaatsah al-Lahfaan min Mashaayid asy-Syaithaan, Jilid 1, hal. 142 dengan sedikit perubahan.

[15] Ibid, hal. 61

[16] Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Hadi al-Arwah ila Bilad al-Afraah, hal. 540

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s